Bulan Juni-Juli kemarin menjadi bulan yg penuh dengan pengalaman berharga.
Akhir Juni, mbah uti harus masuk rumah sakit karena sakit di pinggang sebelah kanannya. Ini adalah kali pertama keluarga kami berurusan dengan rumah sakit, selain kasus "ibu melahirkan". Selama sebelas hari, saya harus menemani nenek, tidur di rumah sakit. Kadang-kadang ditemani kakak, kami berdua membawa tikar untuk tidur di lantai, di samping ranjang mbah uti.
Selama sebelas hari pula, jadwal kegiatan saya kacau. Gak bisa ke kampus, gak bisa ikut futsal, gak bisa jualan pulsa, bahkan untuk nonton pertandingan EURO pun susah. Saya masih ingat benar, hanya pertandingan Italia melawan Inggris yang saya bisa nonton secara penuh, sejak mbah uti masuk rumah sakit. Partai final pun, saya hanya nonton 5 menit terakhir. alhamdulillah masih kebagian gol keempat dan pesta kemenangan Spanyol.. :)
Pertandingan EURO sedikit banyak menjadi hiburan bagi orang-orang yang menunggu keluarganya yang harus opname di rumah sakit. Bersama orang-orang itulah, saya nonton bareng Piala Eropa di lobi bangsal . Setelah pertandingan selesai, mereka harus segera kembali ke kamar, kembali mengurusi keluarga masing-masing, yang membutuhkan mereka.
Sungguh berat cobaan bagi orang sakit, dan keluarga yang menunggu orang sakit.
Semoga Allah SWT memberikan kesabaran yang berlimpah bagi mereka semua. Amin
Sebelas hari itu menjadi pengalaman pertama saya menginap, menunggu keluarga di rumah sakit. Menyaksikan kesunyian rumah sakit di waktu malam, untuk pertama kalinya.
Pada akhirnya saya harus bersyukur
karena paling tidak, saya tidak harus menunggu dan merawat sepanjang waktu,
sementara mereka, tetangga bilik sebelah, orang-orang itu, banyak yang harus menunggu dan merawat keluarga mereka sepanjang waktu, tanpa ada yg menggantikan.
Akhirnya saya harus bersyukur
karena saya hanya harus menginap di rumah sakit selama sebelas hari,
sementara ada diantara mereka yang sudah ikut mondok selama satu bulan penuh,
Akhirnya saya harus bersyukur
karena saya masih bisa tidur dengan tikar, bantal dan selimut,
sementara mereka tidur langsung di lantai rumah sakit yang dingin, hanya bermodalkan selembar kain sarung
Dan saya harus bersyukur
karena paling tidak, saya hanya tidur di bawah, bukan di atas ranjang rumah sakit itu...
Ya Allah, semoga sakit yang Engkau berikan, dapat menghapus dosa-dosa kami di dunia ini. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar