Jalan raya Tawangmangu-Sarangan macet total, pada H+3 lebaran.
Akibatnya, kami sekeluarga yang juga berencana liburan ke Sarangan, harus mengurungkan niat. Kami sudah berada di pasar Tawangmangu saat mendengar kabar bahwa jalan ke puncak macet total. Dari pengakuan rekan sopir kami, jarak dari pasar Tawangmangu sampai Gondosuli, harus ditempuh dalam 2 jam! Padahal di hari biasa, cukup 10-15 menit saja. Padahal lagi, Gondosuli masih setengah perjalanan ke Sarangan... Walaupun di keluarga kami tidak ada yang bisa menyetir, tapi kami tahu bahwa macet dan nanjak adalah kombinasi yang menyusahkan.
Kami pikir melanjutkan perjalanan ke Sarangan adalah pilihan konyol. Karena kami sudah bersiap liburan, yang berarti pilihan pulang ke rumah adalah tidak mungkin, maka kami mencari opsi tempat lain yang bisa digunakan untuk liburan. Dan pilihan jatuh pada... Pacitan!
Ya, dari awalnya rencana liburan ke gunung, kami berputar arah untuk piknik ke pantai.
Tapi itu bukan masalah, ternyata masing-masing dari kami sudah menyipakan baju ganti untuk mandi di laut. Entah mengapa.
Pantai Teleng Ria, Teluk Pacitan, siang menjelang sore itu cukup syahdu.
Cuaca cerah, langit biru, dihiasi sedikit gumpalan awan keabu-abuan.
Angin bertiup cukup kencang, dan agak dingin. Namun tidak menyurutkan niat adek2 saya untuk mandi di pantai bersama teman-temannya, dan sesekali berfoto dengan kakak. Saya sendiri memilih berjalan-jalan saja, menggulung celana panjang sampai ke lutut dan hanya membiarkan air laut membasahi kaki saya sampai ke betis.
Pantai sore itu cukup ramai pengunjung, membuat para penjaga pantai bekerja keras, mengingatkan pengunjung agar jauh-jauh dari zona berbahaya. Daerah berbahaya itu dengan jelas ditandai dengan bendera merah yang ditancapkan di tiang2. Penjaga pantai tidak mau kejadian tahun lalu terulang, dimana beberapa pengunjung yang lengah terseret ombak dan akhirnya meninggal. Dengan ombak yang tidak besar, Pantai Teleng Ria justru berbahaya karena ombak besar bisa tiba-tiba datang. Selain itu pantai yang secara keseluruhan landai, namun tiba-tiba curam di beberapa tempat, sering membuat orang lengah.
Sayang kami tidak bisa berlama-lama, tak terasa maghrib sudah hampir tiba.
Setelah mengambil beberapa gambar dan membeli beberapa oleh-oleh, kami segera berkemas untuk pulang ke Solo. Setelah sebelumnya menyempatkan mampir ke rumah teman bapak di Baturetno, liburan kali ini ditutup dengan makan malam di daerah pinggiran kota Wonogiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar